Rohis STIS

Bersama Berjuang Dalam Dakwah

Seputar Haid dan Al-Qur’an


                Bismillahirohmanirrohim. Dewasa ini banyak sepertinya yang mulai mempertanyakan tentang bolehkah wanita yang sedang haid memegang dan membaca Al-qur’an. Di Indonesia yang kebanyakan menganut mazhab Asy-Syafi’i masih banyak yang meragukan kebolehannya. Hal ini memang perlu kita pahami baik-baik karena menyangkut ibadah kaum hawa.Terkait dengan pahala dan dosa karenanya kita mesti memahaminya secara komprehensif. Sebelum masuk ke bagaimana kita mengambil sikap, marilah kita sama-sama simak terlebih dahulu pendapat-pendapat tentang hukum membaca dan memegang Al-qur’an disaat sedang haidh dan nifas.

Pendapat Yang Mengharamkan 

Di antara pendapat yang mengharamkan wanita haidh dan nifas untuk membaca Al-Quran adalah mazhab Asy-Syafi’i.  Al-Imam Asy-syafi’i rahimahullah menetapkan bahwa wanita haidh dan nifas diharamkan untuk membaca Al-Quran. Banyak atau sedikit ayat yang dibaca, hukumnya tetap haram.
Pendapat ini didukung oleh pendapat para shahabat nabi seperti Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Al-Khattab, Ali bin Abi Thalib, dan Jabir bin Abdullah ridhwanullahi ‘alaihim. Dan juga didukung oleh pendapat para salaf seperti Al-Hasan, Az-Zuhri, An-Nakha’i, Qatadah, Ahmad dan Ishaq. Dalil atas larangan itu adalah sabda nabi SAW
Janganlah orang yang junub dan haidh membaca sesuatu dari Al-Quran (HR At-Tirmizy dan Al-Baihaqi)
Namun sebagian ahli hadits mendhaifkan riwayat ini. Sehingga pendapat yang mengharamkan ini dianggap kurang kuat hujjahnya oleh sebagian ulama itu
 
Pendapat Yang Membolehkan 

Di antara ulama yang berpendapat bahwa wanita haidh dan nifas boleh membaca Al-Quran adalah Daud Adz-Dzhahiri, pendiri mazhab Dzhahiri. Selain itu pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Abbas ra, Ibnul Musayyab, Al-Qadhi, Abu At-Thayyib, BInu Ash-Shabbagh. Sedangkan pendapat Al-Imam Malik agak samar tentang wanita haidh yang membaca Al-Quran. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa beliau membolehkannya, namun sebagian riwayat lainnya melarangnya. Dalil yang digunakan kalangan yang membolehkan wanita haidh untuk membaca Al-Quran adalah perkataan Aisyah ra:
Dari Aisyah ra berkata bahwa Nabi SAW selalu dalam keadaan berzikir kepada Allah SWT (HR Muslim)
Dan menurut mereka, membaca Al-Quran termasuk ke dalam kategori berzikir, sehingga dalam keadaan haidh sekalipun tetap diperbolehkan membaca Al-Quran.

Selain itu, syeikh Albani rahimahullah juga memperbolehkan membaca Al-qur’an ketika haid dg hujjah hadist aisyah radiyallahu anhu ketika ia berhaji bersama rasulullah SAW mereka singgah di suatu tempat yang bernama Sarif, didekat Makkah, beliau SAW mendapati Aisyah sedang menangis karena kedatangan haid, lalu beliau bersabda kepadanya:

“Lakukanlah seperti apa yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thawaf dan shalat”

Beliau SAW tidak melarang untuk membaca Al-qur’an .


Begitulah dua pendapat tentang hal ini. Lantas bagaimanakah kaum hawa menyikapinya ?

sebagai sebuah pertimbangan dalam memilih salah satu dari pendapat ini, mari kita simak sebuah kisah berikut.

Waktu itu seorang pria sedang tugas diluar kota dan dalam keadaan safar. Dalam keadaan safar, ada keringanan-keringanan yang diberikan oleh islam termasuk salah satunya keringanan untuk tidak melaksanakan shalat jum’at secara berjama’ah. Ketika jum’at menjelang, dia sedang berada di pedalaman yang memang tidak ada sholat jum’at disana. Hal ini membuat  pria tsb tidak melaksanakan sholat jum’at. Malam harinya, ia bercerita kepada seorang wanita yang notabene adalah saudarinya tentang hal ini. Terjadilah sebuah diskusi menarik antara mereka berdua.

“Dalam kondisi safar, seorang muslim itu tidak memiliki kewajiban dalam melaksanakan shalat jum’at apalagi jika kita tidak mendengar adzan” si pria menjelaskan.

“hmm.. begitu ya ?” balas si wanita seakan kurang yakin

“iya, cek aja di buku fiqih kalo gak percaya”

“iya deh, percaya. Tapi…,”

“Tapi apa ??”

“Gak. Cuma sayang aja kalo gak shalat karena berbeda dengan kaum adam. Waktu untuk shalat bagi kaum hawa itu terbatas karenanya kami tidak bisa melakukan shalat dan mendekat kepada-Nya disaat sedang tidak bisa. Saat kami butuh mendekat dan meminta pertolongan karena mungkin banyak masalah atau hal lain tapi kami sedang tidak bisa maka itu adalah saat yg menyedihkan buat kami. Terkadang kami sangat rindu untuk shalat disaat tidak bisa. Maka kenapa kamu harus tidak melaksanakan shalat jum’at ? sayang banget tau.”

Lelaki itu terdiam sejenak karena terharu.

“ya, tapi aku kan tetep shalat zhuhur.”

“iya sih, hehe”

 

            Ya, begitulah mungkin yang dirasakan kebanyakan kaum hawa yang tidak bisa melakukan shalat di setiap waktu sehingga timbullah sebuah kerinduan ruhiyah yg indah. Bagi para lelaki, kita sepatutnya bersyukur bisa senantiasa melaksanakan shalat dan bagi para wanita. Mungkin Al-qur’an bisa dijadikan sarana alternatif sebagai obat pengganti shalat dalam rangka menjalin hubungan lebih dekat dengan Allah Azza wa Jalla disaat sedang tidak bisa. Wallahu ‘alam.

1 Comment

  1. jangan sia-siakan harimu dengan tidak membaca Al Quran walaupun hanya sehari.
    sungguh sombong orang yang pada 1 harinya saja ia lewati tanpa membaca AL Quran, padahal banyak kenikmatan yang ia rasakan.
    oksigen yang dibutuhkan buat kelangsungan hidupnya senantiasa diberi dengan gratis.

    Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tinggalkan Comentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: