Rohis STIS

Bersama Berjuang Dalam Dakwah

edisi 2 : Cinta Kepada Guru


Ingatkah sobat LDUku dengan Ibu Mus dalam novel Laskar Pelangi?? (bagi yang belum pernah baca,baca ya,keren lho..). Beliau adalah inspirator bagi Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi yang dulu hanya lah anak miskin di perkampungan terpencil di Belitong.Walau Andrea kini telah sukses dan bahkan pernah berkeliling dunia, namun sosok Bu Mus tak pernah lekang dari hatinya.Kesabaran, keikhlasan,dan pengabdian Bu Mus membuat beliau menjadi sosok pahlawan tanda jasa yang sebenarnya.

Sobat semua juga pasti memiliki sosok guru idola, bukan? Berikut kita simak sosok guru idola beberapa mahasiswa STIS…

1. Angga El Rifa’I (2KS1)

Ibu Atik (Dosen STIS, MPC praktek)…, beliau lah sosok yang dapat membaur dengan mahasiswanya, beliau mengingatkan aku pada ibu. Cara mengajar beliau luwes

alias tidak kaku. Dan beliau tau kapan waktunya serius dan waktunya bercanda.

2. Erin Trivoni (3SK3)

Pak Tanizar (Guru Olah Raga SMA Negeri 1,Gantung, Belitung Timur)…,Beliau adalah sosok bapak, teman sekaligus sahabat.Hanya 3 tahun waktu yang Allah berikan pada saya untuk mengenal sosoknya.Walau saat ini beliau telah tiada, tapi beliau tidak akan pernah terhapus dari hati saya. SMS terakhir beliau saat pertama kali saya berangkat ke STIS selalu terkenang… “Mat jalan.hati2.keberhasilan no.1.yang lain hanya bumbu.ingat!!Jangan putus asa halangan pasti ada pergunakan logika dan hati. Bpk yakin erin adalah seorang pejuang yg tidak gampang putus asa.” SMS tersebut masih saya simpan sampai saat ini dan menjadi penyemangat. Dalam mimpi, saya melihat bapak tersenyum. Semoga bapak benar-benar tersenyum disana.

3. Eko Hardiyanto (3KS2)

Semua guru yang telah mengajarkan kebaikan pada saya, baik formal maupun tidak, sangat berarti bagi saya. Terutama Mr/Mrs. X.

4. Edi Wiranto (1B)

Ibu Wardati (Guru Matematika SMP Negeri 1 Banjarmasin)…,orangnya baik, beliau peduli pada masalah-masalah di sekolah. Kapan saja anak didiknya membutuhkan beliau selalu ada. Di usia beliau yang telah masuk setengah abad namun selalu saja ada trik matematika yang beliau peragakan sehingga mudah diterima oleh murid-muridnya.Beliau adalah orang yang berpengalaman dalam memberikan motivasi. Selama 3 tahun berturut-turut beliau menjadi guru terfavorit di sekolah.Meski beliau bukan orang berada, namun semangat beliau menginspirasi saya untuk menyukai matematika. Saya berharap saya bisa menjadi sosok pendidik seperti beliau.

CINTAKU UNTUK GURU

oleh : Seorang Akhwat

Sobat LDUku,

Sejenak pernahkah kita berpikir dan merenung, sudah berapa lama kita mengenyam bangku pendidikan. Begitu banyak ilmu tlah kita dapatkan dan tentu saja itu masih belum cukup sebagai bekal hidup kita. Apalagi sekarang kita telah mengenyam “sekolah gratis” alias ikatan dinas. Inilah salah satu nikmat yang harus kita syukuri. Lalu siapakah orang yang berjasa mengantarkan kita hingga bangku kuliah ini?!!!

Masih ingatkah kita dengan orang-orang yang dulu mengajarkan kita menulis dan membaca huruf hijaiyah, mulai dari alif hingga ya? Sehingga kini, kita sudah mampu menulis arab dan mampu membaca Al-Quran dengan baik, bahkan ada di antara kita ada yang mampu menjadi penghapal Al Quran.

Masih ingatkah kita dengan orang-orang yang dulu mengajarkan kita menulis dan membaca, mulai dari a hingga z? Sehingga kini, kita sudah mampu menulis dan membaca berbagai tulisan, baik berkenaan dengan buku kuliah maupun tulisan lain. Bahkan ada di antara kita yang menjadi pengarang, ataupun penulis buku yang mampu merangkai kata-kata penuh makna.
Masih ingatkah kita dengan orang-orang yang dulu mengajarkan kita berhitung, mulai dari nol hingga bilangan yang tak terdefinisikan? Sehingga kini, kita sudah mampu menghitung. Dan lagi nikmat inilah yang membuat kita mampu menginjakkan kaki belajar disini. Mampu mempelajari ilmu statistik yang penuh dengan ilmu menghitung. Benar bukan ??

Ya benar, mereka adalah bapak ibu guru kita. Pastilah sobat semua mempunyai jawaban yang sama dengan saya. Namun masihkah kita ingat dengan nama-nama beliau ??

Sungguh besar jasa beliau-beliau, hingga kini kita masih bisa menikmati nikmat ilmu. Sungguh layaklah bila kita mengucapkan terima kasih atas jasanya itu. Apakah kita pernah mengucapkan terima kasih usai bapak ibu guru mengajar. Pernahkah kita mengucapkan, “ Bapak, terima kasih telah mengajari saya hari ini. Pernahkah kita berlaku seperti itu?!! Mungkin kita malu untuk berlaku seperti itu. Tapi pernahkah kita bayangkan bapak ibu guru akan tersenyum ketika kita ucapkan itu, sungguh suatu perlakuan kecil namun bisa membuat mereka sangat berharga. Tapi memang mereka sangat berharga bagi kita bukan??! Tentu ya.

Sobat LDUku,,,

Sobat pasti pernah mendengar cerita di buku best seller “ Laskar Pelangi” atau mungkin sobat malah pernah membacanya. Diceritakan bahwa seorang Andrea Hirata yang dari kalangan keluarga tidak mampu dapat mengenyam S2 di Perancis. Subhanalloh…Dan diceritakan pula semua itu karena seorang guru yang dipanggilnya Ibu Muslimah. Seorang guru sederhana yang membuat seorang Andrea Hirata penuh inspirasi dan termotivasi untuk menjelajah dunia dan bermimpi untuk menjadi lebih baik.

Mungkin kita juga punya cerita tersendiri seperti Andrea Hirata berkenaan dengan Bapak Ibu Guru kita. Sebatas kenangan, mungkin itu yang tertinggal dalam diri kita akan jasa bapak ibu guru kita. Kita tidak bisa membalas jasa-jasa beliau yang tak ternilai. Sebenarnya dengan mengamalkan apa yang telah beliau-beliau ajarkan, itu akan mengalirkan pahala yang tak henti untuk para guru tersebut. Setiap huruf Al-Quran yang telah kita baca, ada aliran pahala bagi beliau. Setiap rangkaian kata yang kita tulis yang memberikan manfaat bagi tulisan tentunya, ada aliran pahala bagi beliau. Setiap bantuan yang kita berikan kepada sesama sebagaimana yang dulu diajarkan Bapak Ibu Guru, kepada mereka aliran pahala akan tertuju.

Para guru telah mendapatkan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir dan tidak terputus, walaupun beliau-beliau telah meninggal dunia, yaitu ilmu yang memberikan manfaat.
Di samping itu, hasil didikan beliau-beliau tentang bagaimana bersikap dan berbuat baik kepada para murid akan berbuah pahala selama kita para muridnya terus mengamalkannya.

“Siapa yang mensunnahkan sunnah hasanah maka dia mendapat ganjarannya dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat. Siapa yang mensunnahkan sunnah sayyi’ah (kejelekan),maka dia mendapatkan ganjaran dan ganjaran orang yang mengamalkannya hingga hari qiyamat.”

Mungkin itulah cara kita untuk selalu berterima kasih kepada beliau-beliau, selain dengan selalu menghormati dan mendoakan beliau-beliau, kita harus selalu mengamalkan apa yang telah mereka ajarkan , baik itu ilmu tentang suatu kebaikan atau ilmu lain yang terdapat manfaatnya. Semoga itu semua dapat terus mengalir pahala buat bapak Ibu Guru. Jangan lupa tetaplah menjaga silaturahmi dengan mereka, dengan selalu mengunjungi maka akan membuat Bapak ibu guru merasa berharga.

Terima kasih Bapak Ibu Guru,,,semoga keikhlasanmu mengajari kami dapat mengantarmu nanti di Jannah-Nya Amin….

ADAB KEPADA GURU

Oleh : Ahmad Fatih

27 April 2008/ 20 rabi’ ats Tsani 1429 H

Segala puji bagi Allah yang memberikan ilmu dan amal sebagai bentuk kemuliaan untuk manusia dibandingkan seluruh makhluk lain. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw.beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya yang setia hingga hari kiamat.

Allah berfirman dalam Surah Al Qalam : 4, yang artinya “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) sungguh berada pada budi pekerti yang agung”. Dan diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. “Adalah akhlaq Rasulullah itu berakhlaq Al Qur’an”. Rasulullah juga bersabda yang artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.” Dan ada riwayat lain “(Kesempurnan) agama itu adalah budi pekerti yang baik.” Masih banyak lagi ayat-ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan mengenai akhlaq, dan sudah sangat masyhur yang dijabarkan di kitab-kitab yang lebih luas.

Sebagaimana kita ketahui bahwa menuntut ilmu hukumnya WAJIB bagi setiap muslim (Ingat…!!! meninggalkannya berarti berdosa). Namun yang dimaksud, tidak semua ilmu wajib kita pelajari, diantara yang wajib dipelajari adalah ilmu yang mendukung pelaksanaan amal dan ibadah kita kepada Allah, seperti ilmu tata cara sholat, puasa, zakat kalau sudah memenuhi syarat[1], dan lain sebagainya daripada ilmu syari’at. Begitu pula ilmu yang berkaitan dengan muamalah seperti cara bergaul, dan yang berkaitan dengan pekerjaan, sehingga kita dapat terhindar dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at. Misalnya sebagai pedagang harus tahu cara berdagang yang baik, agar terhindar dari riba. Sebagai statistisi, bagaimana menjadi statistisi yang baik.

Walhasil tidak ada satu urusan pun yang tidak diatur dalam Islam, karena semuanya telah disampaikan oleh Rasulullah, tinggal bagaimana kita menggalinya. Termasuk yang wajib lagi yaitu ilmu mempelajari hal ihwal hati, seperti ilmu mengenai penyakit hati, ilmu mengenai sabar, tawakkal, dan lain-lain yang berhubungan dengan hati, karena hati adalah tempat pandangan Allah kepada hambanya (bukan pada fisiknya).

Untuk mempelajari itu semua akan sulit sekali bahkan mustahil kita pelajari sendiri tanpa bimbingan seorang guru. Guru yang mengajari kita baca tulis,yang membimbing kita, dan mengarahkan kita agar tidak menyimpang dari bidang yang bersangkutan. Sebagai contoh, saat mempelajari ilmu sampling (yang susah-susah sulit itu) misalnya terjadi kesalahan pada text book, dengan bantuan dosen kita bisa terhindar dari pemahaman yang salah dalam sampling, bagaimana tidak??? Kadang text book yang sudah benar pun kita masih salah memahami. Itu tadi sekedar contoh dari ilmu duniawi yang kalau kita salah pun tidak sampai menjerumuskan kita ke dalam api neraka (paling bisa gak naek, atau paling banternya dipaksa “mudik”, na’udzubillah min dzalik), lalu bagaimana kalau yang salah faham itu ilmu agama???

Dalam menuntut ilmu ada tata cara dan adab-adabnya, salah satunya adalah adab kepada guru. Ada sebuah ungkapan dari sayyidina ‘Ali r.a. “Aku adalah seorang budak dari orang yang mengajari aku meskipun hanya satu huruf. Ia bebas menjual, memerdekakan, atau tetap menjadikanku sebagai budak”. Bahkan ada seorang bijak mengatakan “Sungguh dia (guru) berhak mendapatkan kehormatan. Ia mengajarkanku satu huruf tak akan sebanding dengan aku memberinya seribu dirham”. Wow..luaar biasa, bahkan kita tidak jarang diberi tunjangan oleh guru kita..?

Yang jelas guru atau dosen kita tidak mengharapkan balasan dari kita, maka yang harus kita lakukan saat ini adalah menghormatinya. Sudah banyak diketahui bagaimana perlakuan sahabat kepada Nabi saw, yang disatu majelis (saat Rasul mengajar para sahabatnya) disaat Rasul akan membuang dahaknya, para sahabat saling berebut untuk tangannya menengadah untuk mendapatkan dahak itu. Begitu hormatnya para sahabat terhadap Rasul. Mereka menundukkan pandangan dihadapan Rasul seakan ada burung bertengger diatas kepala mereka.

Dalam kitab Ta’lim-Al Muta’allim disebutkan, diantara cara menghormati guru ialah tidak berjalan di depannya, tidak menduduki tempat biasa ia duduk, tidak memulai berbicara kecuali dengan seizinnya, tidak banyak bicara di sisinya, dan tidak menanyakan yang sia-sia, tetapi hendaklah menghemat waktu terhadapnya. (‘Ajiiib[2])

Ringkasnya kita berusaha menyenangkan hatinya, jangan membuatnya marah, patuhi perintahnya selagi tidak menyalahi aturan Allah. Termasuk pula bentuk menghormati kepada guru yaitu menghormati anaknya maupun orang-orang yang ada pertalian dengannya. Bagaimana dengan yang telah kita lakukan terhadap guru kita, terutama kepada dosen untuk saat ini.

Walhasil itu semua berlaku bagi guru-guru yang mengajarkan kita ilmu duniawi (yang halal dipelajari)[3], apalagi guru kita yang mengajarkan ilmu agama, yang membimbing kita ke jalan Allah. Tapi ingat, guru kita yang pertama kali adalah orang tua kita, terutama ibu…!!! Seperti telah kita ketahui bahwa Rasulullah pernah ditanya, siapakah orang yang pertama kali wajib kita hormati, Rasul mengatakan ibumu sampai tiga kali, baru mengatakan ayahmu. Jadi begitu mulia ibu kita karena bergabung kemuliannya sebagai ibu dan juga guru kita yang pertama. Dengan keridhoan orang tua, terutama ibu semoga kita diberi kesuksesan di dunia dan akhirat, a..mi…n.

Insyaallah di lain kesempatan akan dibahas adab-adab yang lain dalam menuntut ilmu. Kita selalu mengharap pertolongan Allah agar kita mampu menjalankan ketaatan kepada-Nya dan untuk menjauhi segala apa yang dilarang. Mohon maaf atas segala kekurangan, wabillahi taufiq ila aqwam-at thoriq. Wallahu a’lam bi-as shawwab.

Sumber : Kitab Ta’lim Al Mutaa’lim (Syaikh Az Zarnujy) dan Mau’idzotul Mu’minin (Syaikh Muhammad Jamal Alqosimy) yang merupakam ringkasan dari Ihya’ ‘Ulumiddin karya Imam Al Ghozzaly.


[1] Kalau kita belum memenuhi syarat untuk wajib mengeluarkan zakat, kita belum dituntut untuk mengetahuinya secara detail, namun kita tetap harus mengetahui rukun Islam secara garis besarnya, karena zakat termasuk rukun Islam. Begitu pula dengan haji, namun lain halnya dengan sholat, karena setiap kita yang baligh, berakal, sudah tentu wajib mengerjakan sholat.

[2] Kereen

[3] Bukan ilmu meramal nasib, atau ilmu sihir, dan semua yang bertentangan dengan syara’

Tinggalkan Comentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: