Rohis STIS

Bersama Berjuang Dalam Dakwah

edisi 1 : Meneladani Rasulullah SAW


Cuap-cuap penerbit:

Assalamuallaikum wr. Wb.

Alhamdulillah, puji dan syukur hanya milik Allah, Tuhan semesta alam yang telah mengatur jagat raya dengan teliti, rinci dan pasti. Shalawat dan salam terbingkis manis teruntuk kekasih Allah, idola kita semua, rosulullah Muhammad saw. Beserta keluarganya, para sahabat dan para ulama terdahulu yang telah jadi jembatan ilmu.

Yuhu…LDU mania, apa kabar?

Semoga baik-baik aja ya!!! Sebelumnya izinkan kami (gaya Rhoma irama) mengucapkan selamat datang kembali ke kampus plat merah ini, terutama buat temen-temen tingkat I yang telah berhasil membekuk tunduk jerat-jerat DO, yang sempat bikin ketar-ketir, SELAMAT!!!

Mungkin kalian bingung, heran, kaget atau shock sampe ternganga-nganga, pas ngeliat tampang LDU sekarang, Iya kan?! Ya seperti halnya bumi yang terus berputar, komet yang terus beredar dan matahari yang terus bersinar, shining! LDU pun akan terus berbenah, memperbaiki diri mulai dari materi yang semakin berisi dan tentunya tampilan yang semakin genjreng!!! Dan itu semua kami lakukan karena cinta dan hanya untuk anda para LDU mania, cie!!!

Terlepas dari berbagai kesalahan, kelemahan dan kekurangan akibat keterbatasan ilmu dan kurangnya kapasitas mencerna realita. Kami berharap agar metamorfosis ini dapat diterima dan membawa perbaikan bagi kita semua, amin.

Akhirnya kami mengucapkan terima kasih yang seluas-luasnya kepada seluruh pihak yang telah turut campur tangan. Rela beranjak dari ‘zona nyaman’ menuju ‘zona hiruk-pikuk’ demi menyisingnya LDU ini. Dan juga kami mengharapkan do’a dari teman-teman semua agar kami tetap ikhlas dan istiqomah dalam menjalankan amanah ini, amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tim redaksi.


Meneladani Rasulullah SAW

oleh : Irwan Sutisna

Muhammad…

Menelusuri kehidupannya laksana menelusuri sebuah sungai yang panjang dan berliku. Disana akan kita temukan kejernihan hati. Kesejukan angin akhlak yang berhembus. Terjalnya ombak cobaan dan teguhnya keimanan. Serta keniscayaan rahmat akan Tuhan.

Muhammad…

Seorang pemuda yang ‘tidak biasa’ untuk bisa mengubah masyarakat Arab jahiliyah yang putitan secara akhlak, barbar dan kasar, menjadi bangsa lemah lembut, disegani, besar dan berkibar. ‘Tidak biasa’ mengingat dia hanyalah seorang ummi, yang tidak bisa baca tulis.

Muhammad kecil…

Dia hanyalah seorang yatim yang tidak pernah menatap pekat gurat wajah ayahnya, dan harus rela untuk tidak berlama-lama memanja dalam pangkuan ibunda.

beruntunglah, karena dia masih memiliki seorang kakek yang begitu mencintainya. Memaknainya laksana batu permata. Juga seorang paman yang mengartikannya laksana belahan jiwa. Dalam bingkai cinta, dia menjalani hidup dengan sederhana sangat bersahaja. Kambing-kambing yang digembalakannya telah menggembalakan ‘benih-benih kepemimpinan’ dalam dirinya menjadi berkembang dan menjulang.

Muhammad…

Kian tumbuh, kian tangguh. Berkembang menjadi pribadi yang matang. Beliau bukan hanya seorang pemimpin umat islam, umat yang menempati hampir separuh permukaan bumi dengan akselerasi pertumbuhan tertinggi. Namun lebih dari itu, dia adalah seorang panglima dan administrator yang unggul dalam sejarah. 10 tahun di madinah, 30 gazwah beliau pimpin sendiri selain 300-an sariyah (datasemen) yang beliau bentuk dan berangkatkan. Lupakan Napoleon Bonaparte yang selama ini jadi kebanggan Eropa, Goerge Washington ataupun Simon Bolivar-nya amerika latin, karena mereka bukan apa-apa, bukan tandingannya.

Beliau juga seorang pemimpin yang sangat perhatian. Beliau begitu mengenal dan memahami karakteristik sahabat-sahabatnya. Beliau tahu benar makna seorang pemimpin, melayani bukan untuk dilayani. Beliau begitu bersahaja, bahkan seorang singa padang pasir, umar bin khatab pun sampai mengurai air mata, menangis saat melihat seorang pemimpin umat tidur beralas tikar belukar kasar yang membilur punggung. Jangan bandingkan dia dengan rekannya sesama pemimpin kala itu, kisra di Persia atau kaisar di romawi yang hidup dalam kemahamewahan, diantara emas, permata dan sutera.

Muhammad…

Dia adalah ekonom yang handal. Bakatnya sudah mencuat sejak usia 12 tahun dengan menjadi ‘manajer internasional’ abu thalib dalam perdagangan ke negeri Syam. Dialah pengelola utama bisnis besar Khadijah, yang sifat-sifat nabawinya: siddiq (jujur), amanah (kapabel), fathanah (cerdas) dan tabligh (informatif) dijadikan rujukan teori entrepreneurship modern.

Muhammad…

Dia orator dan motivator yang membakar setiap gurat semangat. Dia juga seorang penceramah yang luar biasa. Pernah, beliau khutbah setelah Shubuh sampai Dzuhur, dan dilanjutkan lagi sampai Ashar dan Maghrib. Tanpa seorang pun bosan , ngantuk dan mengukir mimipi, bahkan mereka begitu antusias, menyimak dengan seksama dan tidak mengeluarkan suara kecuali untuk memenuhi seruannya.

Dia juga seorang negosiator brilian. Dia mengetahui logat-logat bahasa arab dan berbicara menurut logat dan bahasa orang dihadapannya. Dia pulalah yang mencegah pertumpahan darah dalam sengketa hajar aswad, dan hudaibiyah adalah salah satu dari banyak bukti kecemerlangannya.

Muhammad…

Suami yang manis dan romantis. Mengerti, bahwa wanita ingin dimengerti. Dia sempat mengajak istrinya balap lari, meredam kecemburuan istrinya dengan memencet hidungnya dan membiasakan panggilan sayang seperti Khumairaa, yang kemerahan roman mukanya. Disela kesibukannya memimpin umat, dia masih menyempatkan diri menambal baju, membersihkan terompah, menggiling gandum dan memerah susu.

Dia adalah ayah yang luar biasa. Dia begitu luwes menimang Ibrahim sang putra, dan jongkok sebelum akhirnya berbicara dengan seorang anak kecil.

Tanyakan pada tetangganya, betapa mereka merasa aman dan nyaman dengannya, seorang pribadi yang lembut dan jujur, sampai-sampai orang yang membencinya pun menitipkan barang kepadanya.Sungguh Al-amin, sebuah gelar yang bukan hanya gelar.

Muhammad…

Dia adalah teman duduk yang mengasyikan, candanya tidak berbumbu dusta, penampilannya sederhana, tak ingin berbeda, rapi, wangi dan menyejukan mata. Beliau orang pertama yang menjenguk orang sakit dan duduk sama rata bersama kaum miskin dan budak sebaya tanpa mengiraukan kasta.

Begitulah sedikit kemuliaan Muhammad, insan kamil. Uswatun hasanah, suri tauladan kita sepanjang masa.

Disarikan dari : Saksikanlah bahwa aku seorang muslim,

karya Salim A. Fillah

Fenomena Ayat-Ayat Cinta Vs Fitna

Oleh: Rusdin S. Rauf

“Benar-benar menakjubkan, mengagumkan, dan memesona,” demikian penuturan sebagian penonton setelah menyaksikan film yang diangkat dari novel megabestseller Ayat-Ayat Cinta karya Kang Abik—sapaan Habiburrahman El Shirazy. Pasalnya, sebagian penonton hanyut dalam cerita Kang Abik, lalu tanpa sadar isak tangis pun tak tertahankan lagi. Sungguh Ayat-Ayat Cinta telah memberikan kepuasan tersendiri bagi penikmatnya. Tak heran film ini sukses menyedot perhatian publik. Faktanya, Ayat-Ayat Cinta mampu “menyihir” sebanyak 3 juta lebih orang dalam waktu satu bulan lebih. Fantastik! Presiden, wakil presiden, dan duta besar negara pun turut terpesona menyaksikannya.

Di tengah-tengah naik daunnya film-film berkacamata horor dan seks, justru Ayat-Ayat Cinta mampu menunjukkan ketenarannya. Film ini mengisahkan akan cinta, ikhlas, sabar, kedamaian, persahabatan, saling pengertian dalam nuansa kehidupan beragama. Bukan itu saja, Kang Abik memperkenalkan Islam sebagai agama yang toleran, dan cinta akan perdamaian, jauh dari mencemoh apalagi merendahkan pihak (agama) mana pun. Bahkan, Ayat-Ayat Cinta garapan sutradara Hanung Bramantyo juga ditonton oleh orang berlatar belakang non-Muslim. Jarang sekali film bernuansa Islam di negeri ini yang mendapat tempat di hati kalangan non-Muslim. Kang Abik telah menunjukkan kepada khayalak ramai bahwa Islam itu indah dan mengedapankan sisi-sisi kemanusiaan. Islam itu jauh dari kekerasan dan tindakan anarkis seperti membunuh, melecehkan, dan sebagainya.

Ketika Ayat-Ayat Cinta menunjukkan sisi kedamaian Islam, justru, di Eropa, Islam digambarkan sebagai agama kekerasan. Melalui film Fitna garapan Geert Wilders, Islam dicemoh, dituding sebagai agama yang “haus” akan pembunuhan, dan agama yang tak kenal toleran. Fitna lahir sebagai pengungkapan emosional Wilders karena melihat kekalahannya. Wilders tak rela umat Islam berkembang pesat diberbagai belahan dunia saat ini.

Lahirnya Fitna, tanpa sadar, telah mencemarkan nama baik Wilders sendiri seperti layaknya senjata makan tuan. Film karyanya itu justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Faktanya, sebagian negara-negara Asia maupun Eropa melarang keras pemutaran Fitna. Fitna telah memicu kemarahan umat beragama, bukan Islam saja, bahkan kaum diluar Islam pun menyatakan ketidaksetujuan mereka akan beredarnya Fitna. Fitna telah memfitnah umat Islam. fitna(h) lebih kejam daripada pembunuhan (al-Qur’an). Wilders telah melakukan kebebasan berekspresi yang melanggar hak asasi dan keyakinan orang. Ini termasuk pelanggaran yang fatal dan patut diadili.

Tak heran umat Islam harus segera menyikapi pelecehan ini. Di Malaysia banyak sudah produk-produk Belanda diboikot, bahkan di negeri kita sendiri, presiden pun langsung angkat bicara. Pasalnya, melecehkan agama adalah perihal yang amat sensitif. Namun, perlu digarisbawahi, semua upaya pembelaan umat Islam (termasuk Negara-negara Islam) tetaplah dalam rel kedamaian. Wilders belumlah memahami Islam dengan baik. Mudah-mudahan dengan peristiwa ini menyadarkan Wilders akan kekeliruannya. Tak menutup kemungkinan, Wilders menjadi sadar dan tertarik dengan Islam.

Kita doakan mudah-mudahan Allah SWT. membukakan hati Wilders dan segera memohon maaf kepada umat Islam. “Ya, Allah sesungguhnya mereka belumlah mengetahui, maka tunjukkanlah kepada mereka akan kebenaran agama-Mu ini,” doa Rasulullah Saw..

Hadits this edition:

Sabda Rasulullah SAW : “ Orang-orang yang berkasih sayang, akan dikasihsayangi oleh Allah Yang Maha Agung dan Maha Luhur, kasih sayangilah penduduk bumi maka kalian akan dikasih sayang oleh yang dilangit”. ( HR. Bukhari )

Semangat

oleh: Seorang Akhwat

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapatkan (pahala) dari (kebajikan) yang diusahakannya dan dia mendapatkan (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya…” (Q. S. Al-Baqarah,286)

Hai Sobat LDU-ku, sekian lama telah membuat kalian menunggu (maaf yaa J ), LDU-ku edisi ini akan membahas hal yang sempat membuat khususnya teman-teman tingkat 1 belajar siang-malam, sampai lupa makan, tiap hari begadang (cie segitunya), dan deg-dengan setengah hidup (hayoo ngaku!). Yups, benar sekali, DO. Dua huruf sakti yang mampu membuat berdiri telinga mahasiswa STIS mendengarnya. Tapi, yakinlah, dua huruf itu jugalah yang melecut kita untuk berusaha lebih keras dan menjadi lebih baik, insya Allah.

Sobat LDU-ku yang selalu dirahmati Allah, kita sangat patut bersyukur pada segenap nikmat yang telah diberikan oleh Allah hingga detik ini, pake rumus apapun kita takkan pernah mampu menghitung berapa banyak sudah nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, so bersyukurlah! Terutama sobat tingkat 1 yang baru saja berhasil melompati batu ujian pertama di STIS. Ya, bersyukur untuk keberadaan kita disini, untuk tetap tinggal di kampus tercinta ini demi menuntut ilmu statistik, ilmu yang dapat kita manfaatkan untuk membantu bangsa yang sedang terpuruk ini, dengan menyajikan data apa adanya, objektif dan tanpa rekayasa…

Let’s back to topic… Sungguh, tereliminasi karena DO bukanlah suatu kegagalan, melainkan Allah sedang membukakan jalan lain yang lebih baik. Mungkin sekarang kita merasa bahwa STIS-lah tempat terbaik dengan segala fasilitas dan jaminan masa depannya, tetapi siapa lagi yang lebih mengetahui masa depan dan hal terbaik bagi seorang makhluk jika bukan Sang Khaliknya, Allah SWT.

Adakah terlintas di benak teman-teman, hikmah apa yang tersembunyi di balik salah satu event kehidupan yang mesti dijalani oleh mahasiswa STIS ini, mengapa harus ada DO, mengapa tak seperti perguruan tinggi lain yang tidak menerapkan DO? Renungkanlah, saudaraku …

Dan jangan keburu ilfil trus senewen setiap kali kata itu disebut ya. Karena berkat DO jugalah kita tetap semangat belajar, pelecut di saat rasa malas mendera. Dan yang paling penting, DO dapat menyadarkan kita apa sebenarnya tujuan kita disini. Menuntut ilmu statistik, Saudaraku. Terlebih lagi, kita diberi banyak sekali keringanan, biaya kuliah free, mendapat uang tunjangan ikatan dinas (meskipun belum turun juga, tapi sabar saja, pasti turun kok J), dan jaminan kerja setelah lulus. Bayangkan berapa besar biaya untuk hal-hal tersebut, dan betapa sia-sianya jika kita tidak memaksimalkan potensi disini. Uang yang dikeluarkan tersebut berasal dari uang rakyat Indonesia, yang dimaksudkan agar dapat mencetak kader statistisi yang dapat memperlihatkan data mengenai keadaan faktual mereka suatu saat, dan itu adalah amanah, Saudaraku. Lalu apa bedanya kita dengan koruptor yang selama ini kita maki, jika kita sendiri juga menghabiskan uang rakyat sia-sia dengan tidak belajar serta berusaha memahami ilmu dengan sungguh-sungguh, bukan hanya dengan mempersembahkan nilai-nilai yang tinggi namun esensi ilmu itu juga harus kita pahami benar.

Namun bukan berarti sobat-sobat kita yang tereliminasi oleh DO tidak berusaha, saya yakin mereka pasti berusaha semampu mereka, hanya saja mungkin STIS bukanlah tempat dimana mereka dapat menjadi the best for themselves. Jadikan pengalaman mereka sebagai cambuk yang melecut semangat kita untuk terus maju dan belajar, tanamkan motivasi agar tidak mengalami hal yang sama dengan mereka, dan jangan pernah lupa untuk berdoa pada Sang Pemilik Kehidupan, Allah SWT.

“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri”

5 Comments

  1. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Tidur Ketika Khutbah Jum‘at, Mengapa?!”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/hidup-ini-memang-penuh-kelucuan.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  2. terima kasih sharing info/ilmunya…
    saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
    silakan berkunjung ke:

    http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

    salam,
    achmad faisol
    http://achmadfaisol.blogspot.com/

  3. gusti777

    Tetap istIqOmah Aje…

    semoga tulisan2 imi memberikan manfaat bagi kalangan apaPun

    N keep fight

  4. aku

    hihi.. sok kayak Bang Chairil… mmm aku dulu sempat pingin mo daftar ke STIS tapi apa daya nilaiku ga nyampe…

  5. zea

    moga sukses selalu aja deh

Tinggalkan Comentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: