Rohis STIS

Bersama Berjuang Dalam Dakwah

Muslimah Multitalent


“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

(QS.AR RUUM:30)

 

Wanita menyimpan potensi yang luar biasa besar untuk melakukan perubahan pada umat. Fitrah wanita yang tenang dan membimbing bisa membantu dalam mendidik generasi penerus, serta membangun sebuah bangsa, bahkan dunia!! Bila wanita rusak, maka suatu bangsa pun bisa rusak, bahkan hancur!!

 

Sobat UKHTI, emang bener, ga ada perubahan pada makhluk Allah dan fitrah manusia. Fitrah manusia tidak akan berubah dan tidak pula mengalami pergantian betapa pun segala manusia belahan bumi timur dan barat berupaya keras untuk itu. Namun, hal ini bukan menjadi alasan bagi seorang wanita untuk tidak berkeahlian, malah sebaliknya muslimah harus bertalenta, bahkan ber-multi talenta!! Setuju bukan?? Karena sejatinya muslimah adalah guru bagi anak-anaknya kelak, yang menjadi generasi penerus. Kalo gurunya aja ga punya keahlian, kurang berilmu, gaptek, n mungkin agak2 oon, gimana dengan muridnya??! Hehee…

 

Menjadi perempuan atau laki2 bukanlah suatu pilihan ‘untuk menjadi apa’ tetapi adalah pilihan ‘untuk bagaimana’. Di dalam Al Quran digambarkan bahwa kaum perempuan adalah manusia merdeka. Ia mempunyai hak untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya serta menanggung risiko atasnya. Ukhtifillah…Allah memerintahkan istri2 Rasulullah dan perempuan2 muslimah dimana pun berada untuk lebih banyak berperan di rumah. Ini artinya bahwa medan perjuangan kaum perempuan yang utama adalah rumah. Tetapi bukan lantas pemahaman ini dijadikan alasan untuk tidak beraktivitas dan mencari ilmu di luar rumah. TIDAK, tidak demikian!! Seorang perempuan bisa, dan bahkan harus bisa memainkan perannya, dalam batas sesuai kodrat keperempuannya dan tidak sampai menimbulkan fitnah maupun kemaksiatan. Dijelaskan dalam surat an-Nisa:32 bahwa perempuan boleh berusaha dan mencari penghasilan : “dan bagi perempuan (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan”. Untuk mencari penghasilan aja dibolehkan, apalagi untuk mencari ilmu yang bermanfaat…

 

Ummu Sufyan Ats Tsauri adalah salah satu tokoh wanita muslimah yang dapat dijadikan teladan dalam mengutamakan pentingnya menuntut ilmu. Ia adalah seseorang wanita yang rajin ibadah. Suaminya meninggal dunia dan meninggalkan anak untuk diurusnya. Ummu Sufyan Ats Tsauri menjaga amanah dan menjalankan tugasnya dengan baik. Ketaqwaannya terlihat sangat jelas ketika ia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, carilah ilmu dan aku akan membiayaimu dengan alat pintalku ini”. Ummu Sufyan Ats Tsauri siap menanggung keletihan dan bersedia memeras tenaga untuk membiayai anaknya belajar. Ia memintal sepanjang hari, untuk mengumpulkan harta agar dapat menafkahi anaknya untuk membeli kertas dan alat tulis. Ia tidak pernah berpikir anaknya akan meraih ijazah karena masa itupun belum ada ijazah. Ia juga tidak pernah berpikir anaknya kelak akan menduduki suatu jabatan tertentu atau status sosial yang tinggi karena hal itu tidak menjadi tujuannya.

 

Pada suatu hari, Ummu Sufyan Ats Tsauri, mendapati putranya terkena penyakit malas dan cahaya ilmu yang ada pada tingkah lakunya mulai redup. Ia berkata kepada anaknya, “Wahai putraku, jika engkau telah menulis (mempelajari) sepuluh huruf, maka perhatikanlah, apakah engkau melihat pada dirimu penambahan dalam aktifitas, kesabaran, dan kesopanan? Wahai putraku, jika engkau belum melihat adanya tambahan tersebut maka ketahuilah bahwa ilmumu belum bermanfaat.”

 

Betapa berharganya ilmu dan sungguh istimewa orang yang berilmu. Tentu berbeda dengan orang yang berharta, seorang hartawan belum tentu memiliki keistimewaan. Ali bin Abi Thalib r.a. pun pernah berkata, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta sebaliknya, kamu yang harus menjaganya. Jika ilmu itu disebarkan kepada orang lain maka ilmu itu akan bertambah, sedangkan harta, jika disebarkan maka ia akan berkurang.”

 

Ukhtifillah…Khadijah ra. adalah sosok seorang muslimah ideal yang hidup di masa Rasulullah. Beliau adalah seorang yang paling baik kesalehannya, kemurahan hati, kedermawannya, dan suka mementingkan kepentingan orang lain. Beliau juga seorang ahli ibadah dan memiliki akal yang cerdas. Nah, lalu sekarang apa yang bisa qta lakuin sebagai seorang mahasiswi? Wuiiih…kalo disebutin satu2 kayaknya ga bakalan cukup deh. Emang seberapa sih banyaknya?! Sebenernya ga banyak2 juga sih, tergantung qta aja gmana menyikapinya. Selain belajar qta juga harus selalu meningkatkan ilmu-ilmu lain yang kita miliki, tentunya ilmu yang bermanfaat, misalnya saja ilmu untuk menulis karya ilmiah, bahasa inggris, bahasa arab, dll. Hal ini sedikit banyak bisa membuka hati dan akal kita untuk melihat lebih jauh tentang segala kekurangan kita yang pastinya tidak untuk ditutupi tetapi untuk selalu diperbaiki dan diperbaiki. Walopun secara riil emang ga ada manusia yang sempurna. Bener kan ?! tapi tentu saja ilmu tidak akan seimbang tanpa wujud nyata dan keimanan…jadi intinya, untuk menjadi muslimah yang multi talenta diperlukan ilmu, iman, dan amal. Nah, jadi gimana sobat UKHTI?! Siap jadi muslimah multi talenta kan??

1 Comment

  1. ot

    muslimah di STIS ada gak yang seperti tulisan diatas?
    kayaknya ada deh.

    Mau tahu siapa?

    jawabannya: ANDA

    he..he..

    afwan, tapi beneran untuk akhwat ana serius loh,
    kalau untuk ikhwan sih gak usah dipikirin ya

Tinggalkan Comentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: