Rohis STIS

Bersama Berjuang Dalam Dakwah

edisi 3 : Peranan Ilmu Dalam Kehidupan


Aman, Iman, dan Amanah

Oleh : M. Sodiq

Secara bahasa, ilmu berasal dari kata ‘Alima-Ya’lamu-‘Ilman yang berarti mengetahui. Jadi, ilmu adalah bentuk kalimah isim “Masdar ghoiru mim” yang berarti pengetahuan. Ilmu adalah cahaya Allah dan merupakan salah satu dari Asmaul husna. Jadi, orang yang berilmu, kedudukannya di hadapan Allah SWT lebih tinggi dari pada orang yang tak berilmu, seperti firman Allah dalam surat al Mujadalah ayat 11,” Allah akan dan terus mengangkat (kedudukan) orang-orang yang beriman dari kamu sekalian dan orang-orang yang berilmu dengan beberapa derajat”.

Sudah kita ketahui melalui Al Qur’an bahwa tujuan utama kita diciptakan Allah SWT adalah untuk beribadah (menghamba dan menyembah) kepadaNya. Dalam Al Quran pun Allah berkali-kali mengingatkan kita akan janjiNya memberi pahala dan balasan kenikmatan, baik di dunia maupun besok di Akhirat, jika kita bertakwa kepadaNya, begitu juga Allah SWT berkali-kali mengingatkan kita akan ancamanNya memberi siksa dan adzab yang pedih jika kita bermaksiat kepadaNya. Kita sebagai makhluk yang paling sempurna, tentulah memilih mendapatkan kenikmatan-kenikmatan dan rasa aman dari datangnya siksa.

Untuk mendapatkan rasa Aman itulah maka landasan utama kita adalah harus Beriman kepadaNya, dan Alhamdulillah kita sudah diberikan kenikmatan terbesar tersebut -tentunya setelah kenikmatan diutusnya Rosululloh SAW di muka bumi ini- dan semoga Iman tersebut dapat kita bawa hingga menghadap Allah SWT. Firman Allah SWT “ Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu sekalian mati melainkan dalam keadaan Islam.”

Agar keimanan terus ada dan bertambah, maka kita tentunya harus menjaga dan meningkatkannya, yaitu dengan terus bertakwa dan beribadah kepadaNya. Dalam setiap beribadah atau beramal, harus kita dasari dengan ilmu tentang ibadah dan amal tersebut karena sesungguhnya Ibadah adalah buah dari ilmu.

Hujjatul Islam, Imam Al Ghozali, mengumpamakan ilmu seperti sebuah pohon, sedangkan ibadah adalah buahnya. Pohon kedudukannya lebih unggul karena ia merupakan pondasi atau dasar sebelum adanya buah. Namun, hakikat yang akan kita ambil manfaat dari kenikmatan pohon tersebut adalah hasil buahnya, bukan pohonnya. Dari perumpamaan tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa Ilmu kedudukannya lebih didahulukan dari ibadah karena ia merupakan pondasi dasar dan bukti dalam mencari petunjuk. Rosululloh SAW bersabda “ Tidurnya orang dengan Ilmu lebih baik dari pada solatnya orang diatas kebodohan (H. R. Abu Nu’aim)”. Dan sesungguhnya, jika ibadah yang kita lakukan tidak didasari dengan ilmu, maka ia akan ditolak Allah SWT. Jadi, kita harus memiliki ilmu dan ibadah, yang senantiasa berjalan seiring dan seirama.

Seorang sufi besar, Syeikh Hasan al Bashri, mengatakan “Carilah ilmu dengan sebenar-benarnya, asalkan tidak berseberangan dengan ibadah, dan laksanakanlah ibadah dengan sebaik-baiknya asalkan mengetahui ilmu, serta sarana dan prasarana ibadah”.

Menurut Imam Al Ghozali, alasan utama kita mendahulukan mencari ilmu dari pada ibadah adalah:

1. Dengan ilmulah kita akan menemukan maksud dan tujuan ibadah tersebut dengan benar dan selamat dari kecacatan sehingga ibadah kita bisa diterima Allah SWT.

2. Dengan ilmulah kita bisa memiliki rasa takut (Khassyah) dan Cinta (Mahabbah) kepada Allah SWT yang pada akhirnya akan mengantarkan kita pada sikap Mengenal siapa sebenarnya Allah SWT (Ma’rifatulloh).

Firman Allah SWT : “ Sesunguhnya orang yang takut kepada Allah di antara para hambaNya hanyalah Ulama’ ( orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah)” (QS. 35:28).

Ilmu jugalah yang pertama kali Allah SWT perintahkan kepada kita untuk mencarinya sepanjang hidup kita, seperti dalam sabda Rosululloh SAW, ”Carilah ilmu dari ayunan sampai liang lahat”. Hal ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu (terutama ilmu agama) dalam Islam.

Ibadah yang didasari dengan pemahaman mendalam tentang ilmunya tentu akan lebih banyak mendapat pahala dan lebih disenangi Allah SWT daripada ibadah yang hanya dibekali ilmu secukupnya saja atau bahkan tanpa ilmu. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini dapat diibaratkan dengan sangat jauhnya perbedaan gaji yang diterima antara seorang pekerja kasar (ex. OB) yang sedikit menggunakan akal (ilmu) dengan pekerja elit (ex. Direktur) yang didasari dengan ilmu yang mendalam, walaupun jika dilihat dari banyaknya waktu dan tenaga yang digunakan dalam bekerja, pekerja kasar lebih unggul dari pekerja elit. Itulah perumpamaan kedudukan antara ahli ilmu dengan orang jahil.

Rosululloh SAW bersabda, “ Sesungguhnya, keutamaan orang yang mengetahui (‘Alim) terhadap orang yang melaksanakan ibadah (‘Abid) adalah seperti keutamaanKu terhadap umatku yang paling rendah” (HR. Tirmidzi).

Dalam sabda yang lain, Beliau mengatakan “ manusia terbagi dua golongan, orang yang berilmu (‘alim) dan orang yang belajar ilmu (Muta’allim), dan tidak ada kebaikan selain kedua golongan tersebut” (HR Thobroni).

Secara garis besar, menurut para Ulama’, ilmu-ilmu yang wajib dicari terbagi menjadi tiga, yaitu :

1. Ilmu Ketuhanan ( ilmu tauhid )

2. Ilmu Batin (ilmu akhlak dan tasawuf), yaitu ilmu yang berhubungan dengan hati ( kalbu) dan amalan-amalannya

3. Ilmu syari’at (ilmu fiqih)

Setelah kita mendapatkan ilmu-ilmu tersebut, maka kita wajib untuk tetap memegang Amanah (tanggung jawab) atas ilmu tersebut, yaitu dengan mengamalkannya dalam beribadah dan menyampaikannya dengan tepat dan benar kepada ummat disertai dengan niat yang benar karena Allah SWT. Rosululloh SAW bersabda ,“ Siapa saja yang mencari ilmu dengan tujuan menyaingi para Ulama’, atau untuk membantah orangorang bodoh, atau agar manusia melihat kepadanya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka” Na’udzu Billah Min Dzalik. Maka, salah satu ciri orang yang ‘Alim adalah tingginya sikap tawadlu’ mereka, saling menghargai kepada orang-orang lain yang berbeda pemahaman, seperti yang di contohkan oleh Imam-imam madzhab yang kita kenal. Wa Allohu A’lam Bi As-Showaab.

Sumber : 1. Riyadhu As-Sholihiin ( Imam Nawawi)

2. Mukhtaarul Ahadiits ( Syeikh Akhmad Al Hasyimi)

3. Minhaaj Al ‘Aabidiin ( Imam Al Ghozali)

100 Tahun Kebangkitan Bangsa..

Oleh : (BEE)

Tahun ini genap seabad kesadaran kebangsaan terdengar gaungnya. Sejak 20 Mei 1908 Budi Utomo tegak. Sejak inspirasi untuk menentang penjajahan secara terorganisasi dan terbuka bagi semua golongan bangsa Indonesia, juga meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia melalui pendidikan diwujudkan.

Tepatnya bulan ini. Di televisi iklan-iklan berbau semangat kebangkitan nasional, seabad kebangkitan bangsa, plus pesan-pesan moral ramai diperlihatkan. Di jalan, spanduk-spanduk serupa yang mencoba mengingatkan juga bertebaran. Di universitas-universitas, di lembaga pendidikan, di instansi-instansi lainnya pun 100 tahun kebangkitan nasional tak luput diperingati sebagai moment penting.

Esensinya apa, sih?!

Beberapa hari yang lalu saya khatam membaca sebuah buku tua berjudul “Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran”. Karena ingin membaca ulang point-point pentingnya, buku itu saya bawa ke kampus. Saat melihat buku itu, salah seorang teman saya berkomentar,”Soe Hok Gie, demonstran, gak ada itu semua! Aku gak suka demonstran. Mereka protes-protes tapi kalo mereka yang jadi presiden belum tentu mereka lebih baik. Apalagi banyak yang berdemonstrasi karena dibayar untuk kepentingan-kepentingan tertentu.”

Jujur, panas hati saya mendengarnya. Saya mencoba menjelaskan bahwa tidak semua demonstran seperti yang dia pikirkan. Banyak kok demonstran yang benar-benar peduli atas penderitaan rakyat dan menyuarakan aspirasi mereka! Meskipun memang saya tidak menutup mata atas oknum-oknum tertentu yang merusak citra demonstran.

Terlebih-lebih Soe Hok Gie, masih duduk di bangku SMA saja, dia sudah begitu pedulinya pada nasib bangsa. Hingga dia sangat mengutuki pemimpin-pemimpin bangsa yang menelantarkan rakyat yang miskin. Duduk di bangku kuliah, perhatiannya terhadap ketidakadilan semakin besar. Dia menghidupi pergerakan untuk rakyat, bukan hidup dari pergerakan tersebut. Saya pikir, dia termasuk satu dari tipe mahasiswa yang dibutuhkan bangsa. Sayang, dia atheis.

Kebetulan di hari yang sama, seorang dosen di kelas saya bercerita tentang fakta kehidupan masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Konon mereka sudah sangat bersyukur bisa makan nasi aking (nasi sisa makan orang lain). Dosen saya sedikit bergurau nyeletuk,”Kalo mereka makan nasi aking, anjing makan apa?”

Miris.. Betapa sedikit sekali manusia-manusia yang peduli pada manusia-manusia lain di sekitarnya. Betapa sedikit sekali manusia-manusia yang rela berkorban bukan untuk tujuan apa-apa. Betapa sedikit sekali manusia-manusia yang mau hidup makmur bersama bukan –melenggang kangkung – makmur sendiri.

Saya teringat cerita Ali Bin Abi Thalib. Suatu ketika rumah tangganya mengalami kesulitan ekonomi hingga seharian belum makan. Tiba-tiba seorang pengemis meminta sedekah ke rumahnya. Padahal di rumah tidak ada apapun yang bisa diberi kecuali sepotong roti untuk dimakan bersama Fatimah istrinya. Ali bertanya pada si pengemis, sudah berapa lama dia tidak makan. Tanpa berpikir panjang diberinya roti itu pada si pengemis karena dia sudah dua hari tidak makan. Sedangkan keluarganya baru sehari menahan lapar. Subhanallah..

Andai kita mau membuka mata, ada banyak hal di sekitar kita yang butuh perhatian, ada banyak hal penting yang meminta kepedulian kita, ada banyak hal yang semestinya kita tahu, karena mereka saudara kita! Terkadang kita terlalu egois untuk bahagia sendiri tanpa memperdulikan orang-orang yang jarang mengecapnya. Terkadang kita begitu tega membiarkan mereka menikmati penderitaan mereka sendiri, tanpa pernah terlintas sedikitpun keinginan untuk berbuat sesuatu.

Orang-orang yang terpaksa makan nasi aking itu tidak butuh tertawaan, demonstran yang berani menyuarakan derita rakyat tak butuh komentar, Soe Hok Gie mati muda tak butuh dipuja, begitu juga dengan Ali Bin Abi Thalib. Mereka ingin ada yang melanjutkan semuanya. Kepedulian terhadap sesama. Itu aja!!

100 tahun kebangkitan bangsa, kita menerima banyak, tapi kita sudah memberi apa?

About these ads

Tinggalkan Comentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: